Jarum jam menunjukkan pukul 22.00
kedua mataku mulai goyah, lembam
tak kuat lagi menari
Empat tirali besi tadi masih menyelimutiku, merah dan keras
Lembaran BUng Karno-Bung Hatta bertebaran di bawah lampu 30 watt
"Mau di apakan lembaran ini?" ungkapku dalam batin
Putri malam t'lah menanggal habis pakaiannya dan asyik bercumbu ria
hening...
sepi...
sunyi...
kecuali tubuhtubuh lunglai
ramaikan pentas tubuhtubuh nan elok
menawarkan jasa
pada lelaki jalang
Sedang aku terkulai lemas,
bingung entah mau kemana
Jogjakarta, 1 Juni 2003
Selasar Sajak Persinggahanku
Menderas Senandung Cinta, Merangkai Mutiara Kata
Selasa, 17 Mei 2011
Perjalanan Anak Adam
Ku labuhkan jejak langkahku
di bawah langit dunia
di bawah telapak tangan Ibu
Ku labuhkan jiwa dan perasaan
tuk menuai angan
Bila hati berdiam diri berpangku sepi
dan kaki telah capai dari perjalanan panjang
Namun sesaat
Ya...hanya sesaat...!
Ingin ku tangkap, namun lima jariku tak sanggup menangkapnya
"Ah...itu kan baru lima jari, pasti aku bisa" gumamku dalam hati
Jogjakarta, akhir Mei 2003
di bawah langit dunia
di bawah telapak tangan Ibu
Ku labuhkan jiwa dan perasaan
tuk menuai angan
Bila hati berdiam diri berpangku sepi
dan kaki telah capai dari perjalanan panjang
Namun sesaat
Ya...hanya sesaat...!
Ingin ku tangkap, namun lima jariku tak sanggup menangkapnya
"Ah...itu kan baru lima jari, pasti aku bisa" gumamku dalam hati
Jogjakarta, akhir Mei 2003
Kupu-Kupu Biru di Pembaringan
Mentari pagi menyambut lembut kupukupu biru
yang terbaring di atas dedaunan
berselimutkan periperi surgawi
Senyum kecilnya menjawab sang mentari
Kepakkan sayap yang selalu membawa sabda ketaman firdaus
kini...tak kuasa terbang melawan takdir Ilahi
dan matahari pun terbang tinggi
pejamkan mata kupukupu biru-ku
______________________________
Kembali sang syamsu
bangunkan tubuh segarkan sendi
Sedang rembulan malam
menjemput dan membawa senyum
bagi kehidupan kupukupu biru
jernih nan suci
Jogjakarta, pertengahan Mei 2003
yang terbaring di atas dedaunan
berselimutkan periperi surgawi
Senyum kecilnya menjawab sang mentari
Kepakkan sayap yang selalu membawa sabda ketaman firdaus
kini...tak kuasa terbang melawan takdir Ilahi
dan matahari pun terbang tinggi
pejamkan mata kupukupu biru-ku
______________________________
Kembali sang syamsu
bangunkan tubuh segarkan sendi
Sedang rembulan malam
menjemput dan membawa senyum
bagi kehidupan kupukupu biru
jernih nan suci
Jogjakarta, pertengahan Mei 2003
Serangan Pukul Satu
(Untuk: Saudaraku-Remaja Masjid Jogokarsan)
Hembusan angin masih menyelimuti tubuh mataram
menidurkan ribuan pasang mata
menghadirkan keheningan
Namun pukul satu dini hari
puluhan kaki mengusik jiwajiwa terlelap
merengsek paksa rumah Allah
membabi buta
mencari insan tak berdosa
Jogjakarta, awal Mei 2003
Hembusan angin masih menyelimuti tubuh mataram
menidurkan ribuan pasang mata
menghadirkan keheningan
Namun pukul satu dini hari
puluhan kaki mengusik jiwajiwa terlelap
merengsek paksa rumah Allah
membabi buta
mencari insan tak berdosa
Jogjakarta, awal Mei 2003
Rintihan Anak Adam II
Tuhan...
Ketika ku berlari kepada-MU
kau timpakan aku batu
Ketika ku mencari tahu
engkau beri aku nestapa
Ketika ku terdiam berpangku sepi
engkau datangkan mimpi
Tuhan...ku selalu menyebut nama-MU di setiap syairku
Namun Engkau seolah berpurapura tak mendengarnya
Dan Engkau rela membiarkanku menjadi budak makhluk yang kau benci
Jogjakarta, akhir April 2003
Ketika ku berlari kepada-MU
kau timpakan aku batu
Ketika ku mencari tahu
engkau beri aku nestapa
Ketika ku terdiam berpangku sepi
engkau datangkan mimpi
Tuhan...ku selalu menyebut nama-MU di setiap syairku
Namun Engkau seolah berpurapura tak mendengarnya
Dan Engkau rela membiarkanku menjadi budak makhluk yang kau benci
Jogjakarta, akhir April 2003
Derita Anak Adam
Berkecamuk satu persatu
hawa dingin itu terus menerus
menggangguku,
mentertawakanku
membawaku ke jembatan penghampaan
Hampir diriku tak kuasa menahannya
Sekali ku ingin bangkit
ia melemparku
hingga tulangku remuk tak bersisa
Jogjakarta, akhir April 2003
hawa dingin itu terus menerus
menggangguku,
mentertawakanku
membawaku ke jembatan penghampaan
Hampir diriku tak kuasa menahannya
Sekali ku ingin bangkit
ia melemparku
hingga tulangku remuk tak bersisa
Jogjakarta, akhir April 2003
Rintihan Anak Adam I
Disanakan engkau berada?
Memainkan dawai dunia
dengan nada kesukaan-MU
Lalu kau jadikan aku seperti ini?
Sedang kala dirimu bahagia
kau datangkan permata
Aku tak mengerti maksud-MU?
HIngga kau jadikan diriku laksana bunga bangkai
dan kau jadikan yang lain permata dunia
apakah kau ingin diriku sebagai rasa pahit dunia?
Dan kau membawa diriku ke lembah nista
Jogjakarta, akhir April 2003
Memainkan dawai dunia
dengan nada kesukaan-MU
Lalu kau jadikan aku seperti ini?
Sedang kala dirimu bahagia
kau datangkan permata
Aku tak mengerti maksud-MU?
HIngga kau jadikan diriku laksana bunga bangkai
dan kau jadikan yang lain permata dunia
apakah kau ingin diriku sebagai rasa pahit dunia?
Dan kau membawa diriku ke lembah nista
Jogjakarta, akhir April 2003
Mencari Firman Ilahi
Acapkali ku berlari ke pantai
tak ada sambut yang ku dapat
Acapkali ku mengejar bukit
tak ada mudah yang ku dapat
Acapkali ku bercanda dengan bulan
tak ada senyum yang ku dapat
Acapkali ku berlari ke hutan
namun tak satu jua pun manusia menemani
Lalu, aku kembali ke pantai
mendengar canda gemuruh ombak, mencari firman Ilahi
Jogjakarta, pertengahan April 2003
tak ada sambut yang ku dapat
Acapkali ku mengejar bukit
tak ada mudah yang ku dapat
Acapkali ku bercanda dengan bulan
tak ada senyum yang ku dapat
Acapkali ku berlari ke hutan
namun tak satu jua pun manusia menemani
Lalu, aku kembali ke pantai
mendengar canda gemuruh ombak, mencari firman Ilahi
Jogjakarta, pertengahan April 2003
Masih Adakah...?
Biarlah dawai pencinta
menari hangatkan tubuh
Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu
Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi
Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu
Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu
Jogjakarta, awal April 2003
menari hangatkan tubuh
Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu
Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi
Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu
Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu
Jogjakarta, awal April 2003
Syair Mahmud Kecil II
(Untuk : Mujahidin Palestine)
T'lah lama kami hidup
dalam deru bising peluru tentara Yahudi
dan tank-nya yang merengsek pemukiman muslim
lalu mengusir dari tanah suci ini
Tempat peribadatan bukan lagi
sejuk, nyaman seperti dulu
melainkan berubah menjadi kamp pengungsian rakyat Palestine
Batubatu kecil Gaza di tepi barat
selalu siap menghancurkan Yahudi kafir dan lambang keangkuhannya
Tiap hari kami kan terus mengumandangkan tabir
hingga Palestinku merdeka dan meraih kembali tanah kelahiran kami
Jogjakarta,awal Februari 2003
T'lah lama kami hidup
dalam deru bising peluru tentara Yahudi
dan tank-nya yang merengsek pemukiman muslim
lalu mengusir dari tanah suci ini
Tempat peribadatan bukan lagi
sejuk, nyaman seperti dulu
melainkan berubah menjadi kamp pengungsian rakyat Palestine
Batubatu kecil Gaza di tepi barat
selalu siap menghancurkan Yahudi kafir dan lambang keangkuhannya
Tiap hari kami kan terus mengumandangkan tabir
hingga Palestinku merdeka dan meraih kembali tanah kelahiran kami
Jogjakarta,awal Februari 2003
Langganan:
Postingan (Atom)