Selasa, 17 Mei 2011

Jeritan Sudut Kota

Entah berapa tahun lagu
ku menjalani hidup di lorong jembatan tua
yang menjadi kawan pelampiasan kantukku

Deru bising bus kota dan teriakan kernet
membuat telinga memerah
serta mengganggu kedua lentera hatiku

Bau arak mulutmulut jagoan pasar
warnai sudut kota nan sesak

Kini...dalam keterpaksaan
ku hanya bisa mengelus dada
atas nasibku

Mungkinkah diriku mampu keluar dari jeratan nasib?

(Sebuah puisi deskripsi atas nasib orang2 pinggiran)

Jogjakarta, 27 Januari 2003
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar