Sastra Sosial

Jiwa-Jiwa Tertindas

Wahai jiwajiwa tertindas
Yang mendekam dalam ruang ketakutan
Bangkit...!
Dan hancurkanlah
Kedurjanaan sang penguasa

Bawalah panji-panji kebenaran
Dan suarkanlah mereka
Atas penderitaan kalian

Fajar keadilan
Kan selalu bersama
Menyatu dengan nurani
Yang t'lah tergores
Oleh kemunafikan penguasa...

Jogjakarta, 12 Oktober 2002 

Di Balik Jubah

Di balik jubah
kau pertontonkan keindahan
Membuat hati ini tersekam olehmu

Namun itu tak membuat kami
tertipu dan bungkam begitu saja

Nurani kami t'lah tersayat
oleh kepura-puraanmu

Cukup sudah kau nodai hidup ini dengan buih kepalsuanmu
Dan kami sudahi bersama rengekkanmu

Cirebon, 27 November 2002 

Jeritan Si Lemah

Batubatu cadas
t'lah menggores tubuh kami
hingga menusuk lorong kalbu

Membuat diri kami sakit dan terjebak
dalam derasnya gelombang kehidupan

Mungkinkah...?
Diri ini akan berakhir sudah
dalam jeritan kenestapaan
dan tuk terakhir kali
menatap indahnya kedamaian dan kebahagiaan

Jogjakarta, 27 Desember 2002  

Sabda Perjuangan

Terseok pada gemerlap tahta
membuatmu makin membatu
dan kuasa menindas pionirpionir
kecil tak bersalah

Jiwa dan raga
yang mereka perjuangkan
kau renggut..
tanpa belas kasihan sedikitpun

Akankah kau lanjutkan
Semua ini?
Dan menghapus
Segala panji perjuangan?
Sadarlah...!
Wahai perampas bangsa
Sebelum kau
disadarkan sabda perjuangan

Jogjakarta, 30 Desember 2002 
Jeritan Sudut Kota

Entah berapa tahun lagu
ku menjalani hidup di lorong jembatan tua
yang menjadi kawan pelampiasan kantukku

Deru bising bus kota dan teriakan kernet
membuat telinga memerah
serta mengganggu kedua lentera hatiku

Bau arak mulutmulut jagoan pasar
warnai sudut kota nan sesak

Kini...dalam keterpaksaan
ku hanya bisa mengelus dada
atas nasibku

Mungkinkah diriku mampu keluar dari jeratan nasib?

(Sebuah puisi deskripsi atas nasib orang2 pinggiran)

Jogjakarta, 27 Januari 2003


Kala Siang di Malioboro

Ku lihat gadis kecil bermuka manis
duduk memelas di tengah trotoar

Meminta belas kasih
pada tiap jiwa yang melewati

Pancaran kesedihan
tampak dari rona wajahnya yang mungil
membuatku iba tuk mendekatinya

Batinku trus bertanya; mengapa ia seorang diri?
tanpa ada seorang pun menemani

Jogjakarta, 28 Januari 2003 

Sajak Anak Bangsa
(Untuk: Bu Mega cs dan penerus bangsa)

Dalam gerbong kereta
kau lupa siapa dirimu
dan asyik bercumbu mesra
bersama emas kehidupan

Sementara tunastunas Ibu Pertiwi
di pertanyakan nasibnya

Akankah kau jual lagi
martabat bangsa?

Yang tlah kau jual
bagai kembang gula?

Jogjakarta, 2 Maret 2003 

Dimanakah Nurani-mu?

Ketika tubuh mulai membusuk
menebar aroma berwujud

Ketika jiwa terbenam di penghujung bulan
melahirkan pergulatan yang tak dapat di-elakkan

Kau tertawa bagai jiwajiwa penyamun
yang rela menanggalkan waktu
di dalam Istana Raja Keabadian

Bila sabda didedungkan
daun hati beranjak pergi
menikmati santapan
bersama mawarmawar memabukkan 

Jogjakarta, 12 Maret 2003 

Syair Mahmud Kecil I
(Untuk: Mujahidin Palestine)

Sayup merdu kidung adzan subuh
membahana di kota suci Musa
menggetarkan qalbu yang terlelap dalam buaian mimpi
namun tak seperti Intifadah yang menjaga pag, siang, malam dari ketakutan yang mencekam

Tubuhtubuh Mujahidin penuh darah terkulai membusuk sepanjang Palestin-ku
Takbir, Kalimatullah
Kan s'lalu menggempita dari bibirbibir perjuangan
Tapi...dimana Khali dan Khallah-ku?
Seminggu sudah ku tak menjumpainya
Apakah mereka tlah menjadi syahid agung?
Ataukah terpenjara bersama Intifadah

Desingan peluru Yahudi, terus mengincar, mencari, menembus dada kaum muslim
Wahai...Israel Laknatullah
engkau takkan mampu mengusir kami
dari Yerussalem tercinta dan Palestin yang ku sayang
dan takkan kami izinkan seonggok tanahpun untukmu,
walau kini kau telah merampasnya

Dan kami tak satu jua pun tunduk untuk Elohim-mu ataupun Haram Al-Sharif
yang kau jadikan tarikh pengusiran nenek moyangmu

Jogjakarta, awal Februari 2003 

Syair Mahmud Kecil II

(Untuk : Mujahidin Palestine)

T'lah lama kami hidup
dalam deru bising peluru tentara Yahudi
dan tank-nya yang merengsek pemukiman muslim
lalu mengusir dari tanah suci ini

Tempat peribadatan bukan lagi
sejuk, nyaman seperti dulu
melainkan berubah menjadi kamp pengungsian rakyat Palestine

Batubatu kecil Gaza di tepi barat
selalu siap menghancurkan Yahudi kafir dan lambang keangkuhannya
Tiap hari kami kan terus mengumandangkan tabir
hingga Palestinku merdeka dan meraih kembali tanah kelahiran kami

Jogjakarta,awal Februari 2003  

Masih Adakah...?

Biarlah dawai pencinta
menari hangatkan tubuh

Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu

Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi

Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu

Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu

Jogjakarta, awal April 2003 

Rintihan Anak Adam I 

Disanakan engkau berada?
Memainkan dawai dunia
dengan nada kesukaan-MU
Lalu kau jadikan aku seperti ini?

Sedang kala dirimu bahagia
kau datangkan permata

Aku tak mengerti maksud-MU?
HIngga kau jadikan diriku laksana bunga bangkai
dan kau jadikan yang lain permata dunia
apakah kau ingin diriku sebagai rasa pahit dunia?
Dan kau membawa diriku ke lembah nista

Jogjakarta, akhir April 2003 

Rintihan Anak Adam II

Tuhan...
Ketika ku berlari kepada-MU
kau timpakan aku batu

Ketika ku mencari tahu
engkau beri aku nestapa

Ketika ku terdiam berpangku sepi
engkau datangkan mimpi

Tuhan...ku selalu menyebut nama-MU di setiap syairku
Namun Engkau seolah berpurapura tak mendengarnya
Dan Engkau rela membiarkanku menjadi budak makhluk yang kau benci

Jogjakarta, akhir April 2003 

Derita Anak Adam

Berkecamuk satu persatu
hawa dingin itu terus menerus
menggangguku,
mentertawakanku
membawaku ke jembatan penghampaan

Hampir diriku tak kuasa menahannya
Sekali ku ingin bangkit
ia melemparku
hingga tulangku remuk tak bersisa

Jogjakarta, akhir April 2003 
 
Serangan Pukul Satu

(Untuk: Saudaraku-Remaja Masjid Jogokarsan)

Hembusan angin masih menyelimuti tubuh mataram
menidurkan ribuan pasang mata
menghadirkan keheningan

Namun pukul satu dini hari
puluhan kaki mengusik jiwajiwa terlelap
merengsek paksa rumah Allah
membabi buta
mencari insan tak berdosa

Jogjakarta, awal Mei 2003 

Perjalanan Anak Adam

Ku labuhkan jejak langkahku
di bawah langit dunia
di bawah telapak tangan Ibu

Ku labuhkan jiwa dan perasaan
tuk menuai angan

Bila hati berdiam diri berpangku sepi
dan kaki telah capai dari perjalanan panjang

Namun sesaat
Ya...hanya sesaat...!

Ingin ku tangkap, namun lima jariku tak sanggup menangkapnya
"Ah...itu kan baru lima jari, pasti aku bisa" gumamku dalam hati

Jogjakarta, akhir Mei 2003  

Kala Malam di Jogjakarta

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00
kedua mataku mulai goyah, lembam
tak kuat lagi menari

Empat tirali besi tadi masih menyelimutiku, merah dan keras
Lembaran Bung Karno-Bung Hatta bertebaran di bawah lampu 30 watt
"Mau di apakan lembaran ini?" ungkapku dalam batin

Putri malam t'lah menanggal habis pakaiannya dan asyik bercumbu ria
hening...
sepi...
sunyi...
kecuali tubuhtubuh lunglai
ramaikan pentas tubuhtubuh nan elok
menawarkan jasa
pada lelaki jalang

Sedang aku terkulai lemas,
bingung entah mau kemana

Jogjakarta, 1 Juni 2003 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar