Biarlah dawai pencinta
menari hangatkan tubuh
Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu
Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi
Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu
Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu
Jogjakarta, awal April 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar