Selasa, 17 Mei 2011

Kala Malam di Jogjakarta

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00
kedua mataku mulai goyah, lembam
tak kuat lagi menari

Empat tirali besi tadi masih menyelimutiku, merah dan keras
Lembaran BUng Karno-Bung Hatta bertebaran di bawah lampu 30 watt
"Mau di apakan lembaran ini?" ungkapku dalam batin

Putri malam t'lah menanggal habis pakaiannya dan asyik bercumbu ria
hening...
sepi...
sunyi...
kecuali tubuhtubuh lunglai
ramaikan pentas tubuhtubuh nan elok
menawarkan jasa
pada lelaki jalang

Sedang aku terkulai lemas,
bingung entah mau kemana

Jogjakarta, 1 Juni 2003

Perjalanan Anak Adam

Ku labuhkan jejak langkahku
di bawah langit dunia
di bawah telapak tangan Ibu

Ku labuhkan jiwa dan perasaan
tuk menuai angan

Bila hati berdiam diri berpangku sepi
dan kaki telah capai dari perjalanan panjang

Namun sesaat
Ya...hanya sesaat...!

Ingin ku tangkap, namun lima jariku tak sanggup menangkapnya
"Ah...itu kan baru lima jari, pasti aku bisa" gumamku dalam hati

Jogjakarta, akhir Mei 2003

Kupu-Kupu Biru di Pembaringan

Mentari pagi menyambut lembut kupukupu biru
yang terbaring di atas dedaunan
berselimutkan periperi surgawi

Senyum kecilnya menjawab sang mentari

Kepakkan sayap yang selalu membawa sabda ketaman firdaus
kini...tak kuasa terbang melawan takdir Ilahi

dan matahari pun terbang tinggi
pejamkan mata kupukupu biru-ku
______________________________

Kembali sang syamsu
bangunkan tubuh segarkan sendi

Sedang rembulan malam
menjemput dan membawa senyum
bagi kehidupan kupukupu biru
jernih nan suci

Jogjakarta, pertengahan Mei 2003

Serangan Pukul Satu

(Untuk: Saudaraku-Remaja Masjid Jogokarsan)

Hembusan angin masih menyelimuti tubuh mataram
menidurkan ribuan pasang mata
menghadirkan keheningan

Namun pukul satu dini hari
puluhan kaki mengusik jiwajiwa terlelap
merengsek paksa rumah Allah
membabi buta
mencari insan tak berdosa

Jogjakarta, awal Mei 2003

Rintihan Anak Adam II

Tuhan...
Ketika ku berlari kepada-MU
kau timpakan aku batu

Ketika ku mencari tahu
engkau beri aku nestapa

Ketika ku terdiam berpangku sepi
engkau datangkan mimpi

Tuhan...ku selalu menyebut nama-MU di setiap syairku
Namun Engkau seolah berpurapura tak mendengarnya
Dan Engkau rela membiarkanku menjadi budak makhluk yang kau benci

Jogjakarta, akhir April 2003

Derita Anak Adam

Berkecamuk satu persatu
hawa dingin itu terus menerus
menggangguku,
mentertawakanku
membawaku ke jembatan penghampaan

Hampir diriku tak kuasa menahannya
Sekali ku ingin bangkit
ia melemparku
hingga tulangku remuk tak bersisa

Jogjakarta, akhir April 2003
 

Rintihan Anak Adam I

Disanakan engkau berada?
Memainkan dawai dunia
dengan nada kesukaan-MU
Lalu kau jadikan aku seperti ini?

Sedang kala dirimu bahagia
kau datangkan permata

Aku tak mengerti maksud-MU?
HIngga kau jadikan diriku laksana bunga bangkai
dan kau jadikan yang lain permata dunia
apakah kau ingin diriku sebagai rasa pahit dunia?
Dan kau membawa diriku ke lembah nista

Jogjakarta, akhir April 2003

Mencari Firman Ilahi

Acapkali ku berlari ke pantai
tak ada sambut yang ku dapat

Acapkali ku mengejar bukit
tak ada mudah yang ku dapat

Acapkali ku bercanda dengan bulan
tak ada senyum yang ku dapat

Acapkali ku berlari ke hutan
namun tak satu jua pun manusia menemani

Lalu, aku kembali ke pantai
mendengar canda gemuruh ombak, mencari firman Ilahi

Jogjakarta, pertengahan April 2003

Masih Adakah...?

Biarlah dawai pencinta
menari hangatkan tubuh

Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu

Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi

Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu

Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu

Jogjakarta, awal April 2003

Syair Mahmud Kecil II

(Untuk : Mujahidin Palestine)

T'lah lama kami hidup
dalam deru bising peluru tentara Yahudi
dan tank-nya yang merengsek pemukiman muslim
lalu mengusir dari tanah suci ini

Tempat peribadatan bukan lagi
sejuk, nyaman seperti dulu
melainkan berubah menjadi kamp pengungsian rakyat Palestine

Batubatu kecil Gaza di tepi barat
selalu siap menghancurkan Yahudi kafir dan lambang keangkuhannya
Tiap hari kami kan terus mengumandangkan tabir
hingga Palestinku merdeka dan meraih kembali tanah kelahiran kami

Jogjakarta,awal Februari 2003

Syair Mahmud Kecil I

(Untuk: Mujahidin Palestine)

Sayup merdu kidung adzan subuh
membahana di kota suci Musa
menggetarkan qalbu yang terlelap dalam buaian mimpi
namun tak seperti Intifadah yang menjaga pag, siang, malam dari ketakutan yang mencekam

Tubuhtubuh Mujahidin penuh darah terkulai membusuk sepanjang Palestin-ku
Takbir, Kalimatullah
Kan s'lalu menggempita dari bibirbibir perjuangan
Tapi...dimana Khali dan Khallah-ku?
Seminggu sudah ku tak menjumpainya
Apakah mereka tlah menjadi syahid agung?
Ataukah terpenjara bersama Intifadah

Desingan peluru Yahudi, terus mengincar, mencari, menembus dada kaum muslim
Wahai...Israel Laknatullah
engkau takkan mampu mengusir kami
dari Yerussalem tercinta dan Palestin yang ku sayang
dan takkan kami izinkan seonggok tanahpun untukmu,
walau kini kau telah merampasnya

Dan kami tak satu jua pun tunduk untuk Elohim-mu ataupun Haram Al-Sharif
yang kau jadikan tarikh pengusiran nenek moyangmu

Jogjakarta, awal Februari 2003

Kemanakah Engkau Melangkah?

Bila pelabuhan jiwa menyapa merdu
tubuh lunglaimu melayang ke khatulistiwa

Bila matahari datang bersinar menebar syair
dirimu berenang ketengah-tengah samudera

Ketika ku tanya dirimu tentang cinta
kau tampakkan senyum tak berasa
"Biarlah diriku seperti ini!" celotehmu padaku

Namun ku tak sudi
ruh suci-mu tenggelam di lautan candu

Masih adakag kasih dan cinta kawan?
Hingga kau rela menjadi budak bunga hatimu

Jogjakarta, 17 Maret 2003

Dimanakah Nurani-mu?

Ketika tubuh mulai membusuk
menebar aroma berwujud

Ketika jiwa terbenam di penghujung bulan
melahirkan pergulatan yang tak dapat di-elakkan

Kau tertawa bagai jiwajiwa penyamun
yang rela menanggalkan waktu
di dalam Istana Raja Keabadian

Bila sabda didedungkan
daun hati beranjak pergi
menikmati santapan
bersama mawarmawar memabukkan 
Jogjakarta, 12 Maret 2003

Sajak Anak Bangsa

(Untuk: Bu Mega cs dan penerus bangsa)

Dalam gerbong kereta
kau lupa siapa dirimu
dan asyik bercumbu mesra
bersama emas kehidupan

Sementara tunastunas Ibu Pertiwi
di pertanyakan nasibnya

Akankah kau jual lagi
martabat bangsa?

Yang tlah kau jual
bagai kembang gula?

Jogjakarta, 2 Maret 2003

Lantunan Tasbih

Terdengar syahdu
lantunan ayatayat Tuhan
pada langit malam yang benderang
di atas kampung perjuangan

Bermandikan cahya rembulan malam
dari pentasbihan gadis berkulit putih

Malaikat, deru angin malam tak hanya berpandang sepi
mereka pun tenggelam
bertasbih ke-hadirat Ilahi

Jogjakarta, 24 Februari 2003

Kala Siang di Malioboro

Ku lihat gadis kecil bermuka manis
duduk memelas di tengah trotoar

Meminta belas kasih
pada tiap jiwa yang melewati

Pancaran kesedihan
tampak dari rona wajahnya yang mungil
membuatku iba tuk mendekatinya

Batinku trus bertanya; mengapa ia seorang diri?
tanpa ada seorang pun menemani

Jogjakarta, 28 Januari 2003

Jeritan Sudut Kota

Entah berapa tahun lagu
ku menjalani hidup di lorong jembatan tua
yang menjadi kawan pelampiasan kantukku

Deru bising bus kota dan teriakan kernet
membuat telinga memerah
serta mengganggu kedua lentera hatiku

Bau arak mulutmulut jagoan pasar
warnai sudut kota nan sesak

Kini...dalam keterpaksaan
ku hanya bisa mengelus dada
atas nasibku

Mungkinkah diriku mampu keluar dari jeratan nasib?

(Sebuah puisi deskripsi atas nasib orang2 pinggiran)

Jogjakarta, 27 Januari 2003
 

Bisikan Gaib

Bayangbayang hitam
slalu menyapa
tatkala aku bersua dengan batin-ku

Mungkinkah...
ini pertanda akhir perjalananku?
Yang kian hari
serasa hampa
bak insan duduk sedih bermuka masam

Jogjakarta, 23 Januari 2003

Nasehat Semesta

Ditepian laut
ku bercanda pada semesta
berteman tarian riuh ombak
dan hembusan bayu yang lembut
membuatku bangkit, melangkah dan hadapi
tantangan gelombang yang telah kulalui dan kupijak

Dan kuyakin,
diriku...kan mendapatkannya

Jogjakarta, 23 Januari 2003

Senandung Cinta

Menggapai rahmat cinta
bersama desir pasir
menyelimuti jiwa dan raga
menggugah hati tuk bangkit
ungkapkan gejolak penuh asmara

Kan kugenggam  dirimu
dalam damai nan indahnya
senandung cintaku


Jogjakarta, 31 Desember 2002

Sabda Perjuangan

Terseok pada gemerlap tahta
membuatmu makin membatu
dan kuasa menindas pionir-pionir
kecil tak bersalah

Jiwa dan raga
yang mereka perjuangkan
kau renggut..
tanpa belas kasihan sedikitpun

Akankah kau lanjutkan
Semua ini?
Dan menghapus
Segala panji perjuangan?
Sadarlah...!
Wahai perampas bangsa
Sebelum kau
disadarkan sabda perjuangan

Jogjakarta, 30 Desember 2002

Gadis Impian

Kala rembulan mendampingi malam
menghiasi semesta penuh keceriaan

Aku disini berkawan dingin
terbayang sesosok gadis impianku

Senyum kecilnya
laksana bunga yang baru mekar
menambah keanggunan rona wajahnya
yang jernih nan suci

Duhai putri berbalut kain putih
kau jernih sesuai namamu

Dan kuyakin...
engkaulah gadis s'lama ini kucari

Jogjakarta, 27 Desember 2002

Jeritan Si Lemah

Batubatu cadas
t'lah menggores tubuh kami
hingga menusuk lorong kalbu

Membuat diri kami sakit dan terjebak
dalam derasnya gelombang kehidupan

Mungkinkah...?
Diri ini akan berakhir sudah
dalam jeritan kenestapaan
dan tuk terakhir kali
menatap indahnya kedamaian dan kebahagiaan

Jogjakarta, 27 Desember 2002

Di Balik Jubah

Di balik jubah
kau pertontonkan keindahan
Membuat hati ini tersekam olehmu

Namun itu tak membuat kami
tertipu dan bungkam begitu saja

Nurani kami t'lah tersayat
oleh kepura-puraanmu

Cukup sudah kau nodai hidup ini dengan buih kepalsuanmu
Dan kami sudahi bersama rengekkanmu

Cirebon, 27 November 2002

Nyanyian Sang Abang

Saat hati tak kuasa menahan rasa
ingin hati memilikinya

Namun waktu belum bicara
kapan ku mendapatkannya

Hati bimbang siapa menyangka
sang impian pun menyuka

Tapi belum ada keberanian dari jiwa
untuk mengungkapkannya

Duhai putri nirmala
tunggulah abang di negeri sana

Cirebon, 24 November 2002 

Meretas Jalan Ilahi

Memandang dalam
kesucian bulan-MU
Aku bertasbih
dalam itikafku
tuk bertaqarrub pada-MU

Yaa Ilahi...
Jernihkanlah hidup hamba-MU ini
Dan bawalah hamba
pada cahya kemenangan
beserta kaum Muhammad
yang ma'ruf pada jalan-MU

Jogjakarta, 6 November 2002

Kebisuan Dalam Penantian

Ketika diri membisu
Diantara sekawanan insaninsan

Aku tertawa geli
Melihat kelakuan mereka

Waktu terus berjalan
Mengganggu penantianku
Tuk kembali pada gubukku

Mereka bak bayi
Yang butuh didikan sang ibu

Lagi, aku membisu...
Laksana batu ditengah
Bungabunga mekar


Jogjakarta, 4 November 2002

Singa Mulia

Wahai singa mulia
Yang berada di singgasana
Ijinkanlah hamba
Memetik dara kecilmu

        Hormatku padamu
        Menjadi bukti kesungguhanku

        Jantung hatimu...
        Kan jadi bintang kehidupanku

Wahai singa bijaksana
Biarlah dirinya menjadi bianglalaku
Dan hidup dalam singgasana keabadian
Bersama indahnya cahya suci...


Jogjakarta, 22 Oktober 2002
 

KHILAF

Aku tersentak...!
ketika tubuh ini, terbaring kaku menjulur
berkawan debu-debu padang pasir

Mulutku tak bisa berucap satu kata pun
Hanya suara hatiku yang bicara
dengan kesedihan dan rintihan
akan sakitnya jiwa dan ragaku ini

Mataku terpejam lagi,
letih karna perjalanan dan panasnya padang pasir
Mulutku kering tak berair karna kedahagaan
Aku butuh akan cawan dan air suci...
tuk membasuh kedahagaanku

Dimana kafilah yang kan menolongku...?
Memberikan padaku segelas air suci
Kini diriku sudah tak tahan lagi
dengan keadaanku saat ini...


Ya Rabbi...
sungguh datangkanlah kafilah padaku
pada sesosok tubuh
yang terasing dilembah ketandusan ini

Sudah cukup siksa-MU padaku...
Ampunilah kekhilafan hamba-MU slama ini
Dan utuslah kafilah
untuk membawa diriku
kembali pada cahaya-MU 

Jogjakarta, 21 Oktober 2002

Jiwa-Jiwa Tertindas

Wahai jiwa-jiwa tertindas
Yang mendekam dalam ruang ketakutan
Bangkit...!
Dan hancurkanlah
Kedurjanaan sang penguasa

Bawalah panji-panji kebenaran
Dan suarkanlah mereka
Atas penderitaan kalian

Fajar keadilan
Kan selalu bersama
Menyatu dengan nurani
Yang t'lah tergores
Oleh kemunafikan penguasa...

Jogjakarta, 12 Oktober 2002

Taubat

Kini hatiku hampa, gersang
Merindukan keteduhan dari cahya Ilahi

Jiwaku yang telah terhempa
Dalam ketidak-berdayaanku
Pada sang materi kehidupan
Membawaku pada lembah kenistaan

Dalam kesunyian malam ini
Bersama sajadah dan tasbih
Kulantunkan ayat-ayat-MU
Memohon ampunan
Akan keangkuhan diriku pada-MU 

Jogjakarta, 12 Oktober 2002

Laut

Dalam kegelapan malam
Kau tampakkan 'keindahan malam'

Lampu-lampu hias menerawang
tuk menghiasi dirimu

Dalam tubuhmu
Kau pancarkan 'pemandangan indah'
Membuat setiap jiwa
Ingin memilikimu

Duniamu melambangkan
Keberagaman yang tentram

Tapi kini...
Tangan-tangan jahil mengusikmu
Dan ingin menghancurkanmu

Aku disini
Hanya bisa berdo'a
Agar ada sesosok insan
Yang memperdulikanmu


Jogjakarta, 10 September 2002