Jarum jam menunjukkan pukul 22.00
kedua mataku mulai goyah, lembam
tak kuat lagi menari
Empat tirali besi tadi masih menyelimutiku, merah dan keras
Lembaran BUng Karno-Bung Hatta bertebaran di bawah lampu 30 watt
"Mau di apakan lembaran ini?" ungkapku dalam batin
Putri malam t'lah menanggal habis pakaiannya dan asyik bercumbu ria
hening...
sepi...
sunyi...
kecuali tubuhtubuh lunglai
ramaikan pentas tubuhtubuh nan elok
menawarkan jasa
pada lelaki jalang
Sedang aku terkulai lemas,
bingung entah mau kemana
Jogjakarta, 1 Juni 2003
Selasa, 17 Mei 2011
Perjalanan Anak Adam
Ku labuhkan jejak langkahku
di bawah langit dunia
di bawah telapak tangan Ibu
Ku labuhkan jiwa dan perasaan
tuk menuai angan
Bila hati berdiam diri berpangku sepi
dan kaki telah capai dari perjalanan panjang
Namun sesaat
Ya...hanya sesaat...!
Ingin ku tangkap, namun lima jariku tak sanggup menangkapnya
"Ah...itu kan baru lima jari, pasti aku bisa" gumamku dalam hati
Jogjakarta, akhir Mei 2003
di bawah langit dunia
di bawah telapak tangan Ibu
Ku labuhkan jiwa dan perasaan
tuk menuai angan
Bila hati berdiam diri berpangku sepi
dan kaki telah capai dari perjalanan panjang
Namun sesaat
Ya...hanya sesaat...!
Ingin ku tangkap, namun lima jariku tak sanggup menangkapnya
"Ah...itu kan baru lima jari, pasti aku bisa" gumamku dalam hati
Jogjakarta, akhir Mei 2003
Kupu-Kupu Biru di Pembaringan
Mentari pagi menyambut lembut kupukupu biru
yang terbaring di atas dedaunan
berselimutkan periperi surgawi
Senyum kecilnya menjawab sang mentari
Kepakkan sayap yang selalu membawa sabda ketaman firdaus
kini...tak kuasa terbang melawan takdir Ilahi
dan matahari pun terbang tinggi
pejamkan mata kupukupu biru-ku
______________________________
Kembali sang syamsu
bangunkan tubuh segarkan sendi
Sedang rembulan malam
menjemput dan membawa senyum
bagi kehidupan kupukupu biru
jernih nan suci
Jogjakarta, pertengahan Mei 2003
yang terbaring di atas dedaunan
berselimutkan periperi surgawi
Senyum kecilnya menjawab sang mentari
Kepakkan sayap yang selalu membawa sabda ketaman firdaus
kini...tak kuasa terbang melawan takdir Ilahi
dan matahari pun terbang tinggi
pejamkan mata kupukupu biru-ku
______________________________
Kembali sang syamsu
bangunkan tubuh segarkan sendi
Sedang rembulan malam
menjemput dan membawa senyum
bagi kehidupan kupukupu biru
jernih nan suci
Jogjakarta, pertengahan Mei 2003
Serangan Pukul Satu
(Untuk: Saudaraku-Remaja Masjid Jogokarsan)
Hembusan angin masih menyelimuti tubuh mataram
menidurkan ribuan pasang mata
menghadirkan keheningan
Namun pukul satu dini hari
puluhan kaki mengusik jiwajiwa terlelap
merengsek paksa rumah Allah
membabi buta
mencari insan tak berdosa
Jogjakarta, awal Mei 2003
Hembusan angin masih menyelimuti tubuh mataram
menidurkan ribuan pasang mata
menghadirkan keheningan
Namun pukul satu dini hari
puluhan kaki mengusik jiwajiwa terlelap
merengsek paksa rumah Allah
membabi buta
mencari insan tak berdosa
Jogjakarta, awal Mei 2003
Rintihan Anak Adam II
Tuhan...
Ketika ku berlari kepada-MU
kau timpakan aku batu
Ketika ku mencari tahu
engkau beri aku nestapa
Ketika ku terdiam berpangku sepi
engkau datangkan mimpi
Tuhan...ku selalu menyebut nama-MU di setiap syairku
Namun Engkau seolah berpurapura tak mendengarnya
Dan Engkau rela membiarkanku menjadi budak makhluk yang kau benci
Jogjakarta, akhir April 2003
Ketika ku berlari kepada-MU
kau timpakan aku batu
Ketika ku mencari tahu
engkau beri aku nestapa
Ketika ku terdiam berpangku sepi
engkau datangkan mimpi
Tuhan...ku selalu menyebut nama-MU di setiap syairku
Namun Engkau seolah berpurapura tak mendengarnya
Dan Engkau rela membiarkanku menjadi budak makhluk yang kau benci
Jogjakarta, akhir April 2003
Derita Anak Adam
Berkecamuk satu persatu
hawa dingin itu terus menerus
menggangguku,
mentertawakanku
membawaku ke jembatan penghampaan
Hampir diriku tak kuasa menahannya
Sekali ku ingin bangkit
ia melemparku
hingga tulangku remuk tak bersisa
Jogjakarta, akhir April 2003
hawa dingin itu terus menerus
menggangguku,
mentertawakanku
membawaku ke jembatan penghampaan
Hampir diriku tak kuasa menahannya
Sekali ku ingin bangkit
ia melemparku
hingga tulangku remuk tak bersisa
Jogjakarta, akhir April 2003
Rintihan Anak Adam I
Disanakan engkau berada?
Memainkan dawai dunia
dengan nada kesukaan-MU
Lalu kau jadikan aku seperti ini?
Sedang kala dirimu bahagia
kau datangkan permata
Aku tak mengerti maksud-MU?
HIngga kau jadikan diriku laksana bunga bangkai
dan kau jadikan yang lain permata dunia
apakah kau ingin diriku sebagai rasa pahit dunia?
Dan kau membawa diriku ke lembah nista
Jogjakarta, akhir April 2003
Memainkan dawai dunia
dengan nada kesukaan-MU
Lalu kau jadikan aku seperti ini?
Sedang kala dirimu bahagia
kau datangkan permata
Aku tak mengerti maksud-MU?
HIngga kau jadikan diriku laksana bunga bangkai
dan kau jadikan yang lain permata dunia
apakah kau ingin diriku sebagai rasa pahit dunia?
Dan kau membawa diriku ke lembah nista
Jogjakarta, akhir April 2003
Mencari Firman Ilahi
Acapkali ku berlari ke pantai
tak ada sambut yang ku dapat
Acapkali ku mengejar bukit
tak ada mudah yang ku dapat
Acapkali ku bercanda dengan bulan
tak ada senyum yang ku dapat
Acapkali ku berlari ke hutan
namun tak satu jua pun manusia menemani
Lalu, aku kembali ke pantai
mendengar canda gemuruh ombak, mencari firman Ilahi
Jogjakarta, pertengahan April 2003
tak ada sambut yang ku dapat
Acapkali ku mengejar bukit
tak ada mudah yang ku dapat
Acapkali ku bercanda dengan bulan
tak ada senyum yang ku dapat
Acapkali ku berlari ke hutan
namun tak satu jua pun manusia menemani
Lalu, aku kembali ke pantai
mendengar canda gemuruh ombak, mencari firman Ilahi
Jogjakarta, pertengahan April 2003
Masih Adakah...?
Biarlah dawai pencinta
menari hangatkan tubuh
Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu
Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi
Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu
Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu
Jogjakarta, awal April 2003
menari hangatkan tubuh
Biarlah jam dinding
berlari seiring waktu
Dan biarlah Tuhan tersenyum
wujudkan mahkota ukhrowi
Masih adakah letusan mesiu dalam benakmu?
Masih adakah sekerat bom mendekam di jiwamu?
HIngga anak Adam menangis sedu
Akankah kau telan?
Lalu berpesta dan tertawa
sedang mereka berpangku lesu
Jogjakarta, awal April 2003
Syair Mahmud Kecil II
(Untuk : Mujahidin Palestine)
T'lah lama kami hidup
dalam deru bising peluru tentara Yahudi
dan tank-nya yang merengsek pemukiman muslim
lalu mengusir dari tanah suci ini
Tempat peribadatan bukan lagi
sejuk, nyaman seperti dulu
melainkan berubah menjadi kamp pengungsian rakyat Palestine
Batubatu kecil Gaza di tepi barat
selalu siap menghancurkan Yahudi kafir dan lambang keangkuhannya
Tiap hari kami kan terus mengumandangkan tabir
hingga Palestinku merdeka dan meraih kembali tanah kelahiran kami
Jogjakarta,awal Februari 2003
T'lah lama kami hidup
dalam deru bising peluru tentara Yahudi
dan tank-nya yang merengsek pemukiman muslim
lalu mengusir dari tanah suci ini
Tempat peribadatan bukan lagi
sejuk, nyaman seperti dulu
melainkan berubah menjadi kamp pengungsian rakyat Palestine
Batubatu kecil Gaza di tepi barat
selalu siap menghancurkan Yahudi kafir dan lambang keangkuhannya
Tiap hari kami kan terus mengumandangkan tabir
hingga Palestinku merdeka dan meraih kembali tanah kelahiran kami
Jogjakarta,awal Februari 2003
Syair Mahmud Kecil I
(Untuk: Mujahidin Palestine)
Sayup merdu kidung adzan subuh
membahana di kota suci Musa
menggetarkan qalbu yang terlelap dalam buaian mimpi
namun tak seperti Intifadah yang menjaga pag, siang, malam dari ketakutan yang mencekam
Tubuhtubuh Mujahidin penuh darah terkulai membusuk sepanjang Palestin-ku
Takbir, Kalimatullah
Kan s'lalu menggempita dari bibirbibir perjuangan
Tapi...dimana Khali dan Khallah-ku?
Seminggu sudah ku tak menjumpainya
Apakah mereka tlah menjadi syahid agung?
Ataukah terpenjara bersama Intifadah
Desingan peluru Yahudi, terus mengincar, mencari, menembus dada kaum muslim
Wahai...Israel Laknatullah
engkau takkan mampu mengusir kami
dari Yerussalem tercinta dan Palestin yang ku sayang
dan takkan kami izinkan seonggok tanahpun untukmu,
walau kini kau telah merampasnya
Dan kami tak satu jua pun tunduk untuk Elohim-mu ataupun Haram Al-Sharif
yang kau jadikan tarikh pengusiran nenek moyangmu
Jogjakarta, awal Februari 2003
Sayup merdu kidung adzan subuh
membahana di kota suci Musa
menggetarkan qalbu yang terlelap dalam buaian mimpi
namun tak seperti Intifadah yang menjaga pag, siang, malam dari ketakutan yang mencekam
Tubuhtubuh Mujahidin penuh darah terkulai membusuk sepanjang Palestin-ku
Takbir, Kalimatullah
Kan s'lalu menggempita dari bibirbibir perjuangan
Tapi...dimana Khali dan Khallah-ku?
Seminggu sudah ku tak menjumpainya
Apakah mereka tlah menjadi syahid agung?
Ataukah terpenjara bersama Intifadah
Desingan peluru Yahudi, terus mengincar, mencari, menembus dada kaum muslim
Wahai...Israel Laknatullah
engkau takkan mampu mengusir kami
dari Yerussalem tercinta dan Palestin yang ku sayang
dan takkan kami izinkan seonggok tanahpun untukmu,
walau kini kau telah merampasnya
Dan kami tak satu jua pun tunduk untuk Elohim-mu ataupun Haram Al-Sharif
yang kau jadikan tarikh pengusiran nenek moyangmu
Jogjakarta, awal Februari 2003
Kemanakah Engkau Melangkah?
Bila pelabuhan jiwa menyapa merdu
tubuh lunglaimu melayang ke khatulistiwa
Bila matahari datang bersinar menebar syair
dirimu berenang ketengah-tengah samudera
Ketika ku tanya dirimu tentang cinta
kau tampakkan senyum tak berasa
"Biarlah diriku seperti ini!" celotehmu padaku
Namun ku tak sudi
ruh suci-mu tenggelam di lautan candu
Masih adakag kasih dan cinta kawan?
Hingga kau rela menjadi budak bunga hatimu
Jogjakarta, 17 Maret 2003
tubuh lunglaimu melayang ke khatulistiwa
Bila matahari datang bersinar menebar syair
dirimu berenang ketengah-tengah samudera
Ketika ku tanya dirimu tentang cinta
kau tampakkan senyum tak berasa
"Biarlah diriku seperti ini!" celotehmu padaku
Namun ku tak sudi
ruh suci-mu tenggelam di lautan candu
Masih adakag kasih dan cinta kawan?
Hingga kau rela menjadi budak bunga hatimu
Jogjakarta, 17 Maret 2003
Dimanakah Nurani-mu?
Ketika tubuh mulai membusuk
menebar aroma berwujud
Ketika jiwa terbenam di penghujung bulan
melahirkan pergulatan yang tak dapat di-elakkan
Kau tertawa bagai jiwajiwa penyamun
yang rela menanggalkan waktu
di dalam Istana Raja Keabadian
Bila sabda didedungkan
daun hati beranjak pergi
menikmati santapan
bersama mawarmawar memabukkan
Jogjakarta, 12 Maret 2003
menebar aroma berwujud
Ketika jiwa terbenam di penghujung bulan
melahirkan pergulatan yang tak dapat di-elakkan
Kau tertawa bagai jiwajiwa penyamun
yang rela menanggalkan waktu
di dalam Istana Raja Keabadian
Bila sabda didedungkan
daun hati beranjak pergi
menikmati santapan
bersama mawarmawar memabukkan
Jogjakarta, 12 Maret 2003
Sajak Anak Bangsa
(Untuk: Bu Mega cs dan penerus bangsa)
Dalam gerbong kereta
kau lupa siapa dirimu
dan asyik bercumbu mesra
bersama emas kehidupan
Sementara tunastunas Ibu Pertiwi
di pertanyakan nasibnya
Akankah kau jual lagi
martabat bangsa?
Yang tlah kau jual
bagai kembang gula?
Jogjakarta, 2 Maret 2003
Dalam gerbong kereta
kau lupa siapa dirimu
dan asyik bercumbu mesra
bersama emas kehidupan
Sementara tunastunas Ibu Pertiwi
di pertanyakan nasibnya
Akankah kau jual lagi
martabat bangsa?
Yang tlah kau jual
bagai kembang gula?
Jogjakarta, 2 Maret 2003
Lantunan Tasbih
Terdengar syahdu
lantunan ayatayat Tuhan
pada langit malam yang benderang
di atas kampung perjuangan
Bermandikan cahya rembulan malam
dari pentasbihan gadis berkulit putih
Malaikat, deru angin malam tak hanya berpandang sepi
mereka pun tenggelam
bertasbih ke-hadirat Ilahi
Jogjakarta, 24 Februari 2003
lantunan ayatayat Tuhan
pada langit malam yang benderang
di atas kampung perjuangan
Bermandikan cahya rembulan malam
dari pentasbihan gadis berkulit putih
Malaikat, deru angin malam tak hanya berpandang sepi
mereka pun tenggelam
bertasbih ke-hadirat Ilahi
Jogjakarta, 24 Februari 2003
Kala Siang di Malioboro
Ku lihat gadis kecil bermuka manis
duduk memelas di tengah trotoar
Meminta belas kasih
pada tiap jiwa yang melewati
Pancaran kesedihan
tampak dari rona wajahnya yang mungil
membuatku iba tuk mendekatinya
Batinku trus bertanya; mengapa ia seorang diri?
tanpa ada seorang pun menemani
Jogjakarta, 28 Januari 2003
duduk memelas di tengah trotoar
Meminta belas kasih
pada tiap jiwa yang melewati
Pancaran kesedihan
tampak dari rona wajahnya yang mungil
membuatku iba tuk mendekatinya
Batinku trus bertanya; mengapa ia seorang diri?
tanpa ada seorang pun menemani
Jogjakarta, 28 Januari 2003
Jeritan Sudut Kota
Entah berapa tahun lagu
ku menjalani hidup di lorong jembatan tua
yang menjadi kawan pelampiasan kantukku
Deru bising bus kota dan teriakan kernet
membuat telinga memerah
serta mengganggu kedua lentera hatiku
Bau arak mulutmulut jagoan pasar
warnai sudut kota nan sesak
Kini...dalam keterpaksaan
ku hanya bisa mengelus dada
atas nasibku
Mungkinkah diriku mampu keluar dari jeratan nasib?
ku menjalani hidup di lorong jembatan tua
yang menjadi kawan pelampiasan kantukku
Deru bising bus kota dan teriakan kernet
membuat telinga memerah
serta mengganggu kedua lentera hatiku
Bau arak mulutmulut jagoan pasar
warnai sudut kota nan sesak
Kini...dalam keterpaksaan
ku hanya bisa mengelus dada
atas nasibku
Mungkinkah diriku mampu keluar dari jeratan nasib?
(Sebuah puisi deskripsi atas nasib orang2 pinggiran)
Jogjakarta, 27 Januari 2003
Bisikan Gaib
Bayangbayang hitam
slalu menyapa
tatkala aku bersua dengan batin-ku
Mungkinkah...
ini pertanda akhir perjalananku?
Yang kian hari
serasa hampa
bak insan duduk sedih bermuka masam
Jogjakarta, 23 Januari 2003
slalu menyapa
tatkala aku bersua dengan batin-ku
Mungkinkah...
ini pertanda akhir perjalananku?
Yang kian hari
serasa hampa
bak insan duduk sedih bermuka masam
Jogjakarta, 23 Januari 2003
Nasehat Semesta
Ditepian laut
ku bercanda pada semesta
berteman tarian riuh ombak
dan hembusan bayu yang lembut
membuatku bangkit, melangkah dan hadapi
tantangan gelombang yang telah kulalui dan kupijak
Dan kuyakin,
diriku...kan mendapatkannya
Jogjakarta, 23 Januari 2003
ku bercanda pada semesta
berteman tarian riuh ombak
dan hembusan bayu yang lembut
membuatku bangkit, melangkah dan hadapi
tantangan gelombang yang telah kulalui dan kupijak
Dan kuyakin,
diriku...kan mendapatkannya
Jogjakarta, 23 Januari 2003
Senandung Cinta
Menggapai rahmat cinta
bersama desir pasir
menyelimuti jiwa dan raga
menggugah hati tuk bangkit
ungkapkan gejolak penuh asmara
Kan kugenggam dirimu
dalam damai nan indahnya
senandung cintaku
Jogjakarta, 31 Desember 2002
bersama desir pasir
menyelimuti jiwa dan raga
menggugah hati tuk bangkit
ungkapkan gejolak penuh asmara
Kan kugenggam dirimu
dalam damai nan indahnya
senandung cintaku
Jogjakarta, 31 Desember 2002
Sabda Perjuangan
Terseok pada gemerlap tahta
membuatmu makin membatu
dan kuasa menindas pionir-pionir
kecil tak bersalah
Jiwa dan raga
yang mereka perjuangkan
kau renggut..
tanpa belas kasihan sedikitpun
Akankah kau lanjutkan
Semua ini?
Dan menghapus
Segala panji perjuangan?
Sadarlah...!
Wahai perampas bangsa
Sebelum kau
disadarkan sabda perjuangan
membuatmu makin membatu
dan kuasa menindas pionir-pionir
kecil tak bersalah
Jiwa dan raga
yang mereka perjuangkan
kau renggut..
tanpa belas kasihan sedikitpun
Akankah kau lanjutkan
Semua ini?
Dan menghapus
Segala panji perjuangan?
Sadarlah...!
Wahai perampas bangsa
Sebelum kau
disadarkan sabda perjuangan
Jogjakarta, 30 Desember 2002
Gadis Impian
Kala rembulan mendampingi malam
menghiasi semesta penuh keceriaan
Aku disini berkawan dingin
terbayang sesosok gadis impianku
Senyum kecilnya
laksana bunga yang baru mekar
menambah keanggunan rona wajahnya
yang jernih nan suci
Duhai putri berbalut kain putih
kau jernih sesuai namamu
Dan kuyakin...
engkaulah gadis s'lama ini kucari
Jogjakarta, 27 Desember 2002
menghiasi semesta penuh keceriaan
Aku disini berkawan dingin
terbayang sesosok gadis impianku
Senyum kecilnya
laksana bunga yang baru mekar
menambah keanggunan rona wajahnya
yang jernih nan suci
Duhai putri berbalut kain putih
kau jernih sesuai namamu
Dan kuyakin...
engkaulah gadis s'lama ini kucari
Jogjakarta, 27 Desember 2002
Jeritan Si Lemah
Batubatu cadas
t'lah menggores tubuh kami
hingga menusuk lorong kalbu
Membuat diri kami sakit dan terjebak
dalam derasnya gelombang kehidupan
Mungkinkah...?
Diri ini akan berakhir sudah
dalam jeritan kenestapaan
dan tuk terakhir kali
menatap indahnya kedamaian dan kebahagiaan
Jogjakarta, 27 Desember 2002
t'lah menggores tubuh kami
hingga menusuk lorong kalbu
Membuat diri kami sakit dan terjebak
dalam derasnya gelombang kehidupan
Mungkinkah...?
Diri ini akan berakhir sudah
dalam jeritan kenestapaan
dan tuk terakhir kali
menatap indahnya kedamaian dan kebahagiaan
Jogjakarta, 27 Desember 2002
Di Balik Jubah
Di balik jubah
kau pertontonkan keindahan
Membuat hati ini tersekam olehmu
Namun itu tak membuat kami
tertipu dan bungkam begitu saja
Nurani kami t'lah tersayat
oleh kepura-puraanmu
Cukup sudah kau nodai hidup ini dengan buih kepalsuanmu
Dan kami sudahi bersama rengekkanmu
Cirebon, 27 November 2002
kau pertontonkan keindahan
Membuat hati ini tersekam olehmu
Namun itu tak membuat kami
tertipu dan bungkam begitu saja
Nurani kami t'lah tersayat
oleh kepura-puraanmu
Cukup sudah kau nodai hidup ini dengan buih kepalsuanmu
Dan kami sudahi bersama rengekkanmu
Cirebon, 27 November 2002
Nyanyian Sang Abang
Saat hati tak kuasa menahan rasa
ingin hati memilikinyaNamun waktu belum bicara
kapan ku mendapatkannya
Hati bimbang siapa menyangka
sang impian pun menyuka
Tapi belum ada keberanian dari jiwa
untuk mengungkapkannya
Duhai putri nirmala
tunggulah abang di negeri sana
Cirebon, 24 November 2002
Meretas Jalan Ilahi
Memandang dalam
kesucian bulan-MU
Aku bertasbih
dalam itikafku
tuk bertaqarrub pada-MU
Yaa Ilahi...
Jernihkanlah hidup hamba-MU ini
Dan bawalah hamba
pada cahya kemenangan
beserta kaum Muhammad
yang ma'ruf pada jalan-MU
Jogjakarta, 6 November 2002
kesucian bulan-MU
Aku bertasbih
dalam itikafku
tuk bertaqarrub pada-MU
Yaa Ilahi...
Jernihkanlah hidup hamba-MU ini
Dan bawalah hamba
pada cahya kemenangan
beserta kaum Muhammad
yang ma'ruf pada jalan-MU
Jogjakarta, 6 November 2002
Kebisuan Dalam Penantian
Ketika diri membisu
Diantara sekawanan insaninsan
Aku tertawa geli
Melihat kelakuan mereka
Waktu terus berjalan
Mengganggu penantianku
Tuk kembali pada gubukku
Mereka bak bayi
Yang butuh didikan sang ibu
Lagi, aku membisu...
Laksana batu ditengah
Bungabunga mekar
Jogjakarta, 4 November 2002
Diantara sekawanan insaninsan
Aku tertawa geli
Melihat kelakuan mereka
Waktu terus berjalan
Mengganggu penantianku
Tuk kembali pada gubukku
Mereka bak bayi
Yang butuh didikan sang ibu
Lagi, aku membisu...
Laksana batu ditengah
Bungabunga mekar
Jogjakarta, 4 November 2002
Singa Mulia
Wahai singa mulia
Yang berada di singgasana
Ijinkanlah hamba
Memetik dara kecilmu
Hormatku padamu
Menjadi bukti kesungguhanku
Jantung hatimu...
Kan jadi bintang kehidupanku
Wahai singa bijaksana
Biarlah dirinya menjadi bianglalaku
Dan hidup dalam singgasana keabadian
Bersama indahnya cahya suci...
Jogjakarta, 22 Oktober 2002
Yang berada di singgasana
Ijinkanlah hamba
Memetik dara kecilmu
Hormatku padamu
Menjadi bukti kesungguhanku
Jantung hatimu...
Kan jadi bintang kehidupanku
Wahai singa bijaksana
Biarlah dirinya menjadi bianglalaku
Dan hidup dalam singgasana keabadian
Bersama indahnya cahya suci...
Jogjakarta, 22 Oktober 2002
KHILAF
Aku tersentak...!
ketika tubuh ini, terbaring kaku menjulur
berkawan debu-debu padang pasir
Mulutku tak bisa berucap satu kata pun
Hanya suara hatiku yang bicara
dengan kesedihan dan rintihan
akan sakitnya jiwa dan ragaku ini
Mataku terpejam lagi,
letih karna perjalanan dan panasnya padang pasir
Mulutku kering tak berair karna kedahagaan
Aku butuh akan cawan dan air suci...
tuk membasuh kedahagaanku
Dimana kafilah yang kan menolongku...?
Memberikan padaku segelas air suci
Kini diriku sudah tak tahan lagi
dengan keadaanku saat ini...
Ya Rabbi...
sungguh datangkanlah kafilah padaku
pada sesosok tubuh
yang terasing dilembah ketandusan ini
Sudah cukup siksa-MU padaku...
Ampunilah kekhilafan hamba-MU slama ini
Dan utuslah kafilah
untuk membawa diriku
kembali pada cahaya-MU
Jogjakarta, 21 Oktober 2002
ketika tubuh ini, terbaring kaku menjulur
berkawan debu-debu padang pasir
Mulutku tak bisa berucap satu kata pun
Hanya suara hatiku yang bicara
dengan kesedihan dan rintihan
akan sakitnya jiwa dan ragaku ini
Mataku terpejam lagi,
letih karna perjalanan dan panasnya padang pasir
Mulutku kering tak berair karna kedahagaan
Aku butuh akan cawan dan air suci...
tuk membasuh kedahagaanku
Dimana kafilah yang kan menolongku...?
Memberikan padaku segelas air suci
Kini diriku sudah tak tahan lagi
dengan keadaanku saat ini...
Ya Rabbi...
sungguh datangkanlah kafilah padaku
pada sesosok tubuh
yang terasing dilembah ketandusan ini
Sudah cukup siksa-MU padaku...
Ampunilah kekhilafan hamba-MU slama ini
Dan utuslah kafilah
untuk membawa diriku
kembali pada cahaya-MU
Jogjakarta, 21 Oktober 2002
Jiwa-Jiwa Tertindas
Wahai jiwa-jiwa tertindas
Yang mendekam dalam ruang ketakutan
Bangkit...!
Dan hancurkanlah
Kedurjanaan sang penguasa
Bawalah panji-panji kebenaran
Dan suarkanlah mereka
Atas penderitaan kalian
Fajar keadilan
Kan selalu bersama
Menyatu dengan nurani
Yang t'lah tergores
Oleh kemunafikan penguasa...
Jogjakarta, 12 Oktober 2002
Yang mendekam dalam ruang ketakutan
Bangkit...!
Dan hancurkanlah
Kedurjanaan sang penguasa
Bawalah panji-panji kebenaran
Dan suarkanlah mereka
Atas penderitaan kalian
Fajar keadilan
Kan selalu bersama
Menyatu dengan nurani
Yang t'lah tergores
Oleh kemunafikan penguasa...
Jogjakarta, 12 Oktober 2002
Taubat
Kini hatiku hampa, gersang
Merindukan keteduhan dari cahya Ilahi
Jiwaku yang telah terhempa
Dalam ketidak-berdayaanku
Pada sang materi kehidupan
Membawaku pada lembah kenistaan
Dalam kesunyian malam ini
Bersama sajadah dan tasbih
Kulantunkan ayat-ayat-MU
Memohon ampunan
Akan keangkuhan diriku pada-MU
Jogjakarta, 12 Oktober 2002
Merindukan keteduhan dari cahya Ilahi
Jiwaku yang telah terhempa
Dalam ketidak-berdayaanku
Pada sang materi kehidupan
Membawaku pada lembah kenistaan
Dalam kesunyian malam ini
Bersama sajadah dan tasbih
Kulantunkan ayat-ayat-MU
Memohon ampunan
Akan keangkuhan diriku pada-MU
Jogjakarta, 12 Oktober 2002
Laut
Dalam kegelapan malam
Kau tampakkan 'keindahan malam'
Lampu-lampu hias menerawang
tuk menghiasi dirimu
Dalam tubuhmu
Kau pancarkan 'pemandangan indah'
Membuat setiap jiwa
Ingin memilikimu
Duniamu melambangkan
Keberagaman yang tentram
Tapi kini...
Tangan-tangan jahil mengusikmu
Dan ingin menghancurkanmu
Aku disini
Hanya bisa berdo'a
Agar ada sesosok insan
Yang memperdulikanmu
Jogjakarta, 10 September 2002
Kau tampakkan 'keindahan malam'
Lampu-lampu hias menerawang
tuk menghiasi dirimu
Dalam tubuhmu
Kau pancarkan 'pemandangan indah'
Membuat setiap jiwa
Ingin memilikimu
Duniamu melambangkan
Keberagaman yang tentram
Tapi kini...
Tangan-tangan jahil mengusikmu
Dan ingin menghancurkanmu
Aku disini
Hanya bisa berdo'a
Agar ada sesosok insan
Yang memperdulikanmu
Jogjakarta, 10 September 2002
Langganan:
Postingan (Atom)